Beda

Sebuah dunia.

Dengan ukuran yang sama antara tanah dan langit.

Dengan kecepatan udara melintas di titik angka yang sama, memberi napas pada setiap makhluk yang dilewati.

Dengan sejarah yang sama, lahir para bayi di tahun yang sama.

Dengan kisah yang sama, dengan kopi pahit yang terpaksa diminum karena penasaran.

Dengan burung beo yang sama, melintas di kala senja yang cerah.

Dengan tawa yang sama, dengan taraf candaan di luar nalar yang persis sama.

Dengan orang yang sama, dengan lantunan gitar yang membuat malam menjadi penuh arti.

Dengan pertanyaan bodoh yang sama, tetapi dengan jawaban yang berbeda.

Setelah dua puluh delapan tahun, akhirnya mereka dipersatukan oleh takdir.

Dalam sebuah dunia, dengan dimensi yang berbeda.

Bogor, 11 Agustus 2023

Jembatan

Image source: Pixiv

Aku berjalan mengikutimu, hingga kita tiba di jembatan kayu yang sedikit rapuh.

Sungai kecil di bawahnya menjadi salah satu jalur kehidupan, jernih dan mengalir tenang.

Kita duduk di tepi jembatan, memandang langit jingga yang terlalu menakjubkan untuk dihiraukan.

Lalu, kualihkan pandanganku, mendapati aura tenang wajahmu terpancar akibat bias senja.

Senyummu yang menular, mengartikan perasaan tulus pada setiap guratan wajahmu.

Aku tahu, apa yang ingin kamu sampaikan padaku.

Dan aku tak menyangkal, bahwa hingga saat ini, adegan mimpi itulah yang paling berkesan dari dirimu.

Bogor, 12 April 2023

Malam

Tenang, aku tak bersamanya kali ini.

Saat ini, aku bebas mencintaimu sedalam – dalamnya.

Tanpa takut terluka akan realita yang ada.

Kita mengarungi sebuah kota tak berpenghuni, sebuah distrik yang dipenuhi banyak sarang laba – laba di dalam bangunannya.

Begitu lengang di siang hari yang tak pernah kita lihat, dan mencekam di malam hari.

Namun, aku bersamamu.

Jadi, aku tak takut apapun.

Kamu nyata di sini, di tempat ini.

Sambil menyanyi senyaring – nyaringnya dalam balutan hitam pekat malam hari.

Sambil menari gembira menyambut baterai senter yang sudah kita cari sejauh ini.

Kita tak peduli, kita menyatu dalam kegelapan, dalam malam panjang terakhir kita.

Lalu, kita terisak satu sama lain, menangisi pagi yang hampir tiba.

Waktu kita hampir habis.

Kita benci fajar, kita benci terik.

Sebab, matahari menuntutku untuk menggunakan kembali tiara logika yang kemarin sengaja kutinggalkan.

Bogor, 27 Februari 2023

Dansa

Dengan gaun indah, aku persembahkan tarian yang mendayu untukmu, yang tengah duduk di kursi tua itu.

Dengan sepatu pantofel yang berkilau, kamu bangkit dan menghentakkan kekuatanmu untuk menopang diriku agar aku tak terjatuh.

Bersama, menggerakkan seluruh tubuh mengiringi musik klasik di ruangan megah ini.

Memberikan sebuah pertunjukan menakjubkan pada kehampaan yang telah menunggu.

Meresapi setiap resonansi pada tuts piano yang dilantunkan, dan tak sadar air mata terjatuh perlahan.

Jika memang ini adalah dansa terakhir kita, aku akan merekam setiap jejak tubuhku bersamamu saat ini, di tempat ini.

Agar aku tak lupa, bahwa aku pernah merasa sangat bahagia… denganmu.

Bogor, 22 Februari 2023

Hidup dan Mati

Aku berdiri di atas banyak kesalahan.

Memuja hal yang seharusnya tak kupikirkan sedetikpun.

Mati rasa pada hal yang seharusnya aku pelihara.

Berbagai paradoksikal rasa yang aku sendiri lelah menjalaninya.

Mimpi – mimpi malamkupun merupakan pelarian atas rumitnya jalan pikiranku.

Aku sakit, hanya saja aku masih bisa tidur nyenyak akibat kelelahan.

Aku sakit, hanya saja aku masih bisa makan dua kali sehari.

Sesehat itu fisikku untuk pikiran – pikiran yang membunuhku.

Bagaimana lagi aku harus mengenyahkan gundah yang perlahan mematikanku?

Bagaimana lagi aku harus menghidupkan rasa yang seharusnya tumbuh subur saat ini?

Aku hidup dan mati, di tempat yang tak seharusnya.

Namun, aku tak berdaya untuk menukarnya.

Seakan – akan, aku harus hidup dengan ini dalam waktu yang lama.

Aku lelah.

Aku lelah.

Bogor, 17 Februari 2023

Tali

Tali itu begitu mudah putus dan lepas.

Sedikit percikan api, atau goresan, maka kandas sudah ikatannya, betapapun kuatnya simpul yang diciptakan.

Harganya murah, kualitasnya standar, tetapi yang paling penting, tali itu kurang cocok untuk menghubungkan dua benda itu.

Mungkin untuk darurat, tali itu bisa dimanfaatkan.

Namun, aku ingin menggunakannya untuk jangka waktu yang cukup lama.

Jadi, aku putuskan untuk menggantinya dengan tali lain yang lebih berkualitas dan pantas.

Aku tak ingin mengganti tali pilihan terakhirku, hingga ia benar – benar rusak dan tak bisa digunakan lagi.

Hingga ia tak lagi punya kekuatan untuk mempertahankan ikatannya antara dua benda itu.

Bogor, 9 Januari 2023

Cinta Pertama

Setiap orang memiliki seseorang yang spesial di hatinya. Yang pertama mengukir kenangan manis di masa remaja, transisi, ataupun dewasa. Yang membedakan adalah, kita bisa berakhir bahagia dengan seseorang itu, atau kita malah terpaksa berpisah demi kebaikan masing – masing. Dan aku adalah salah satu yang harus mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang itu.

Ketika aku tahu, bahwa orang – orang yang kukenal memiliki luka yang sama sepertiku, aku terhenyak, dan merenung akan betapa tidak adilnya dunia ini. Perbedaan agama, keyakinan dan prinsip, pengkhianatan, status sosial, jarak dan waktu, juga kematian memiliki andil yang cukup besar untuk memisahkan dua insan muda yang sedang digeluti asmara. Betapa sedikitnya orang yang berakhir bahagia bersama cinta pertamanya.

Dengan perpisahan, rasa menjadi mati, hambar dan tak lagi menggairahkan. Perasaan tak lagi mendominasi, karena rasa sakit menjadikan logika berjaya kedudukannya. Logikapun mendeklarasikan tujuan utamanya, yaitu tak mengulang kesalahan yang sama, juga mengutamakan masa depan yang mapan dan normal bersama keluarga kecil yang harmonis. Namun, perasaan yang terluka malah bolak – balik menggali masalalu yang telah dikubur, untuk bernostalgia dalam kesendirian. Lawan jenis lain yang datang untuk mengobati luka di hati, diabaikan karena tak sesuai dengan standar cinta pertama yang pernah berpengalaman di hati. Pernikahan diadakan karena logika menuntut pertemanan seumur hidup, untuk saling memberi manfaat terhadap pasangan sah, bukan lagi tentang memberi cinta yang semestinya.

Aku paham sekarang, mengapa ada orang yang begitu nekat untuk selingkuh dengan yang terdahulu mengisi hatinya. Sebab kenangan dan perasaan itu begitu kuat melekat dalam sanubari. Tak pernah tergantikan, tak pernah terhapus dari alam bawah sadar. Namun, bukan berarti aku setuju dengan selingkuh, walaupun mungkin aku sedang berselingkuh dengan nostalgia dan imajinasiku sendiri. Semuanya punya porsi masing – masing. Punya keluarga, tanggungjawab, masa depan dan komitmen yang harus dijaga.

Dengan rasa yang mati tadi pula, manusia bekerja hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup, seperti robot pencari uang yang bisa lapar dan berekskresi. Bekerja menjadi pelarian, pelampiasan, dan distraksi atas rumitnya hati yang semrawut. Terlahir karya seni, penemuan hebat, kesepakatan penting perusahaan melalui hati – hati yang patah ini. Perut selalu panas oleh metabolisme, tetapi kalbu beku dan mematikan, jika tak disembuhkan.

Pertanyaan yang mungkin sulit untuk dijawab oleh semua orang adalah, bagaimana cara menyembuhkan luka patah hati itu? Menurutku, yang telah kulalui sejauh ini, waktu dan pengganti yang tepat akan menyembuhkan luka itu. Namun, bekasnya tetap ada, melintang di tengah keharmonisan keluarga baru. Dan menjadi bagian dari diri sendiri, selamanya, menjadi kisah lalu yang bisa dikenang pada masa tua nanti, atau bahkan menjadi cerita roman picisan versi diri sendiri untuk anak cucu kelak.

Satu lagi, jika kamu tak merasakan apa yang dijelaskan di tulisan ini, kemungkinannya, pertama, kamu menikahi cinta pertamamu. Kedua, kamu belum pernah mengalami jatuh cinta. Ketiga, kamu berhasil bangkit dan melupakan cinta pertamamu sepenuhnya, entah bagaimana caranya (dan aku akui kamu hebat!).

Tangerang, 8 Januari 2023

Validasi

Menata kehampaan yang tak kunjung berhenti untuk singgah di hati.

Meraba validasi rasa dari berbagai simfoni kehidupan.

Mencipta berbagai seni untuk menampung semua gejolak emosi.

Menyuarakan hening dalam guratan pena.

Mengagumi spektakulernya karya Sang Maestro di ujung cakrawala.

Mengasingkan diri dari berisiknya buana.

Merancang skenario yang takkan pernah terjadi.

Bernostalgia dengan koneksi batin di masalalu.

Berdebat dengan suara – suara di pikiran.

Berusaha mengetahui apa yang dirasakan di dalam benak.

Dalam kesendirian, berulangkali, hingga tak ada lagi oksigen dalam tubuh ini.

Bogor, 17 Desember 2022

Seni

Seni yang tercipta berasal dari hati – hati yang patah.

Seni yang tergurat berasal dari kegelisahan pikiran yang tersapu melalui jari jemari.

Seni yang terukir berasal dari imajinasi tak terbatas, yang terlampiaskan melalui lihainya tangan.

Seni yang tertulis berasal dari trauma masalalu yang menghantui selama beberapa dekade.

Sepertinya, semua orang menyukai hadirnya seni.

Namun, tak semua orang bisa menciptakan seni yang utuh dan dalam.

Dan aku, sebagai orang sombong yang tak pernah menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya ini, akan terus membuat karya seni yang tak berguna.

Kupersembahkan untuk diriku yang telah bertahan sejauh ini.

Bogor, 3 Desember 2022

Lagu

Terkadang aku berpikir, bahwa tak seharusnya lagu patah hati diciptakan.

Nada kepedihan dengan lirik yang menusuk, menjebak manusia terkurung di masa lalu.

Mengulang memori yang sama, tentang betapa indahnya kisah di album yang usang.

Membuang apa yang dimilikinya kini deminya yang imajiner.

Membiarkan luka – luka basah yang masih bersemayam di hati.

Memenjarakan diri dalam angan yang peluangnya hampir tak ada.

Menunggu datangnya kesempatan kedua yang mungkin saja tak pernah ditakdirkan.

Namun, realitanya, hampir semua orang menikmati rasa sakit itu.

Lucunya pula, akulah salah satunya.

Dan mungkin saja, jika aku memiliki kemampuan dalam bermusik, kini aku telah menciptakan berpuluh lagu patah hati.

Kudedikasikan lagu – laguku untuk seseorang yang telah berhasil membuatku berdamai dengan kenyataan, meskipun ia tak pernah tahu.

Nyatanya, aku hanya mampu membuat prosa, yang tak lebih dari sebuah literasi visual yang membosankan.

Yang takkan membuat orang lain ketagihan untuk membacanya, lagi dan lagi.

Tak apa, aku tahu sebatas mana kemampuanku.

Akupun yakin, di sana ia masih terus mencari lagu patah hati yang baru untuk memelihara nostalgianya.

Mendengarnya berulangkali, hingga ia terlelap dalam belenggu paralelnya, yang kupercaya bukan diriku.

Bogor, 6 November 2022